Pendaki Remaja Ditemukan Tak Bernyawa di Gunung Slamet Setelah 17 Hari Pencarian

 

Pendaki Remaja Ditemukan Tak Bernyawa di Gunung Slamet Setelah 17 Hari Pencarian

Kronologi Penemuan Korban

Konfirmasi Resmi dari Pihak Desa

Pendaki muda bernama Syafiq Ali Razan, berusia 18 tahun, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Gunung Slamet. Korban sebelumnya dilaporkan hilang selama lebih dari dua pekan sejak pendakian terakhirnya. Proses pencarian melibatkan berbagai unsur relawan dan tim penyelamat.

Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kepala Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Ia menyampaikan informasi penemuan korban melalui pernyataan resmi yang diterima media. Penemuan jenazah terjadi pada Rabu, 14 Januari 2026.

Pihak desa menyebutkan bahwa korban ditemukan dalam status MD atau meninggal dunia. Informasi tersebut sekaligus menutup rangkaian pencarian panjang yang dilakukan sejak korban dinyatakan hilang. Masyarakat setempat turut berduka atas kejadian tersebut.

Kondisi Lokasi Saat Penemuan

Tim SAR menyatakan bahwa jenazah korban tidak ditemukan dalam keadaan tertimbun pasir maupun material alam lainnya. Lokasi penemuan berada di area terbuka yang masih dapat dijangkau secara visual. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi tim evaluasi lapangan.

Berdasarkan dokumentasi di lokasi, tidak ditemukan tanda-tanda longsoran besar di sekitar tubuh korban. Posisi korban menunjukkan kemungkinan masih bergerak beberapa waktu sebelum meninggal. Dugaan ini diperkuat dengan kondisi perlengkapan yang terpencar.

Tim gabungan menyebutkan bahwa kondisi jasad mengindikasikan korban tidak meninggal dalam waktu lama. Diperkirakan kematian terjadi beberapa hari sebelum ditemukan. Kesimpulan ini diperoleh dari observasi fisik di lapangan.

Dugaan Penyebab Kematian

Indikasi Hipotermia di Gunung Slamet

Ketua Operasi SAR Wanadri, Arie Affandi, menjelaskan bahwa korban diduga meninggal akibat hipotermia. Dugaan tersebut berdasarkan kondisi pakaian korban yang tidak lengkap saat ditemukan. Fenomena ini dikenal dalam kasus hipotermia berat.

Korban ditemukan tanpa sepatu dan kaus kaki, serta celana yang diturunkan hingga sebatas lutut. Beberapa perlengkapan pribadi ditemukan tercecer di sekitar lokasi. Kondisi tersebut mengarah pada respons tubuh yang tidak terkendali akibat suhu ekstrem.

Dalam keadaan hipotermia parah, penderita bisa mengalami disorientasi dan perilaku tidak rasional. Melepas pakaian sering terjadi akibat gangguan persepsi panas. Hal ini memperkuat dugaan bahwa korban mengalami penurunan suhu tubuh drastis.

Faktor Alam dan Cuaca Ekstrem

Gunung Slamet dikenal memiliki suhu rendah, terutama pada malam hingga dini hari. Angin kencang dan kabut tebal dapat mempercepat hilangnya panas tubuh. Pendaki tanpa perlindungan memadai sangat rentan terhadap kondisi ini.

Cuaca ekstrem sering berubah secara tiba-tiba di jalur pendakian. Kondisi tersebut menyulitkan pendaki untuk bertahan dalam waktu lama. Risiko meningkat ketika pendaki kelelahan atau terpisah dari rombongan.

Hipotermia kerap menjadi ancaman serius bagi pendaki pemula maupun berpengalaman. Kurangnya perlengkapan hangat dan manajemen waktu menjadi faktor krusial. Edukasi keselamatan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Mengenal Hipotermia

Pengertian dan Dampak Medis

Hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Pada titik ini, fungsi jantung dan sistem saraf mulai terganggu. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berakibat fatal.

Menurut sumber medis, tubuh yang terlalu dingin akan kehilangan kemampuan mempertahankan fungsi vital. Pernapasan dan denyut jantung melambat secara signifikan. Risiko gagal organ pun meningkat drastis.

Dalam kasus ekstrem, hipotermia dapat menyebabkan kematian tanpa disadari korban. Penderita sering merasa mengantuk sebelum kehilangan kesadaran. Inilah yang membuat kondisi ini sangat berbahaya.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal hipotermia meliputi menggigil hebat dan bicara tidak jelas. Koordinasi tubuh juga menurun sehingga gerakan menjadi kaku. Penderita sering tampak kebingungan. Pada tahap lanjut, napas menjadi lambat dan denyut nadi melemah. Energi tubuh menurun drastis hingga korban sulit bergerak. 

Penurunan kesadaran menjadi tanda kritis. Pada bayi, hipotermia ditandai dengan kulit merah terang dan terasa dingin. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera. Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik.

Lebih baru Lebih lama

ads

Berita Amanah dan Terpeercaya

ads

Berita Amanah dan Terpeercaya
Berita Amanah dan Terpeercaya

نموذج الاتصال