Krisis Kemanusiaan di Kamp Pengungsi Utara
Penghancuran bangunan tempat tinggal warga Palestina di Tepi Barat kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Aksi militer ini paling terasa di kamp-kamp pengungsi wilayah utara yang selama ini sudah padat dan rentan. Ribuan warga kini harus mencari perlindungan darurat di tengah cuaca musim dingin.
Di kamp pengungsi Nur Shams dekat Tulkarem, alat berat militer meratakan blok-blok perumahan yang dihuni ratusan orang. Keluarga dipaksa keluar tanpa kepastian tempat tinggal pengganti. Situasi ini memicu kepanikan dan mempercepat arus pengungsian internal.
Warga yang terdampak menyebut kehancuran terjadi secara tiba-tiba dan meluas. Banyak dari mereka kehilangan seluruh harta benda dalam hitungan jam. Kondisi tersebut memperburuk tekanan psikologis pengungsi yang telah hidup dalam ketidakpastian bertahun-tahun.
Operasi Keamanan atau Hukuman Kolektif
Militer Israel menyatakan penghancuran dilakukan demi kepentingan keamanan dan penindakan kelompok bersenjata Palestina. Klaim ini disampaikan sebagai bagian dari operasi jangka panjang di wilayah padat penduduk. Namun, alasan tersebut dipertanyakan oleh banyak pihak.
Organisasi hak asasi manusia menilai tindakan itu menyerupai hukuman kolektif. Penghancuran rumah sipil dinilai melanggar prinsip perlindungan warga non-kombatan. Pengusiran paksa tanpa proses hukum juga disebut bertentangan dengan hukum humaniter internasional.
Perwakilan warga kamp menegaskan skala pengungsian telah mencapai level darurat. Ratusan keluarga belum diizinkan kembali ke rumah mereka. Mereka menilai kondisi ini sebagai bencana kemanusiaan yang dibiarkan berlarut-larut.
Dampak Jangka Panjang bagi Pengungsi
Operasi militer di Nur Shams, Jenin, dan Tulkarem telah berlangsung hampir satu tahun. Analisis lembaga pemantau menunjukkan ratusan bangunan rusak berat atau hancur total. Ini disebut sebagai salah satu gelombang pengungsian terbesar di Tepi Barat.
Puluhan ribu warga Palestina kini hidup menumpang di rumah kerabat atau menyewa apartemen sempit. Sebagian lainnya terpaksa tinggal di sekolah dan gedung publik. Kepadatan dan keterbatasan fasilitas meningkatkan risiko kesehatan dan sosial.
Militer Israel menyatakan pasukan akan tetap ditempatkan di beberapa kamp untuk waktu lama. Pernyataan ini menambah ketidakpastian bagi warga. Tidak ada kejelasan kapan proses pemulihan atau kepulangan dapat dilakukan.
Ekspansi Permukiman dan Tekanan terhadap UNRWA
Di saat rumah pengungsi dihancurkan, persetujuan pembangunan permukiman baru terus berjalan. Otoritas Israel menyetujui unit hunian pemukim di pos terdepan Sa-Nur, Tepi Barat utara. Langkah ini semakin menyempitkan ruang hidup warga Palestina.
Kelompok pemantau menilai kebijakan ini menunjukkan pola penguasaan wilayah secara sistematis. Penghancuran rumah dan pembangunan permukiman dinilai saling terkait. Tujuannya dianggap untuk memperkuat kendali atas tanah Palestina.
Tekanan juga diarahkan kepada UNRWA sebagai badan PBB penopang pengungsi Palestina. Pemutusan layanan dasar di fasilitas UNRWA dikecam PBB karena menghambat bantuan kemanusiaan. Pengamat melihat rangkaian kebijakan ini berpotensi melemahkan perlindungan internasional bagi pengungsi Palestina.

