Komitmen PU Dukung Penanganan Bencana
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan rampungnya pembangunan tujuh blok hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang pada 10 Januari 2026. Saat ini progres pembangunan telah mencapai 75 persen, menunjukkan percepatan signifikan.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa kementeriannya akan terus mendukung langkah-langkah BNPB dalam penanganan bencana di wilayah tersebut. Keberadaan huntara diharapkan menjadi solusi hunian sementara bagi masyarakat terdampak bencana.
Selain tempat tinggal, pemerintah juga memastikan kawasan huntara dilengkapi sarana air bersih dan sanitasi. Fasilitas ini dihadirkan agar warga dapat menempati hunian yang layak, aman, dan bermartabat selama proses pemulihan.
Desain dan Kapasitas Huntara
Huntara Aceh Tamiang dibangun dalam tujuh blok modular, masing-masing menampung 12 kepala keluarga (KK). Satu blok sementara difungsikan sebagai area penyimpanan material karena lokasinya berada di bagian depan dan berbatasan dengan jalan.
Secara keseluruhan, huntara mampu menampung 84 KK atau sekitar 336 jiwa. Setiap blok modular menyediakan ruang cukup bagi 12 KK, sehingga memberi kenyamanan dan ruang pribadi bagi setiap keluarga.
Selain hunian, kawasan ini dilengkapi toilet komunal, instalasi listrik, dan jaringan air bersih. Fasilitas pendukung ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama tinggal sementara.
Sistem Bangunan Modular
Secara teknis, huntara dibangun menggunakan sistem modular dengan rangka baja ringan. Struktur ini dipilih karena kuat, mudah dibangun, dan tetap memberi kenyamanan bagi penghuninya.
Proses konstruksi meliputi pembangunan pondasi, pemasangan rangka modular, serta dinding dan atap baja ringan. Selanjutnya dilakukan pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP) untuk mendukung fasilitas internal.
Dody menekankan bahwa pembangunan huntara merupakan wujud nyata hadirnya negara. Dengan adanya hunian ini, masyarakat terdampak bencana tidak lagi harus tinggal di tenda sempit yang minim fasilitas.
Dampak Positif untuk Warga
Huntara diharapkan menjadi tempat yang aman dan manusiawi bagi masyarakat Aceh Tamiang. Hunian sementara ini memberi ruang lebih luas dibandingkan tenda pengungsian, sehingga warga dapat beraktivitas lebih nyaman.
Ketersediaan fasilitas air bersih, listrik, dan sanitasi akan mendukung aktivitas sehari-hari. Pemerintah berupaya agar masa pemulihan warga berjalan lancar dan efektif.
Dengan tersedianya hunian modular ini, masyarakat diharapkan dapat memulai kembali kehidupan mereka dengan kondisi yang lebih stabil. Langkah ini juga memperkuat rasa aman dan perlindungan bagi keluarga terdampak bencana.

