Pergerakan pasar valuta asing kembali menarik perhatian setelah dolar AS menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketakutan terkait kebijakan pemerintah dan kondisi fiskal Amerika Serikat. Investor sekarang tidak hanya memperhatikan arah suku bunga Federal Reserve, tetapi juga pengaruh kebijakan Departemen Keuangan terhadap tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS serta keyakinan terhadap mata uang dolar.
Tekanan muncul ketika Departemen Keuangan AS berencana memperluas program pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang. Kebijakan ini awalnya dimaksudkan untuk membantu menurunkan tingkat bunga obligasi, namun pasar mulai meragukan apakah tindakan ini bisa memberikan tekanan lebih lanjut terhadap dolar AS.
1. Dolar mengalami penurunan ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir
Dolar Amerika Serikat mengalami penurunan ke tingkat terendah selama tiga bulan terhadap euro pada hari Jumat. Penurunan ini terjadi setelah munculnya kekhawatiran bahwa rencana Departemen Keuangan untuk meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah berjangka panjang justru akan memberikan tekanan yang lebih besar terhadap dolar.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah masih mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali menaikkan pembelian surat utang. Pernyataan ini muncul setelah sehari Departemen Keuangan membuat kejutan bagi pasar dengan rencana setidaknya meningkatkan dua kali lipat nilai pembelian obligasi jangka panjang.
Tindakan tersebut dibuat untuk membantu mengatasi kenaikan bunga obligasi pemerintah. Namun, para investor justru melihat munculnya risiko lain, khususnya karena kebijakan ini bisa memperkuat kekhawatiran tentang kondisi keuangan AS yang terlihat melalui nilai tukar dolar.
2. Return obligasi jangka panjang meningkat secara signifikan
Laju imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan jangka waktu panjang mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang minggu ini. Yield Treasury 30 tahun sempat mencapai titik tertinggi sejak tahun 2007.
Beberapa faktor menjadi perhatian para investor, mulai dari memburuknya kondisi keuangan AS, besarnya penerbitan utang pemerintah, risiko geopolitik akibat konflik dengan Iran, hingga ketidakpastian mengenai arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat.
Para analis menganggap bahwa upaya menekan tingkat bunga obligasi tidak langsung menghilangkan kekhawatiran terkait keuangan negara. Justru, tekanan ini berpotensi berpindah ke pasar valuta asing. Selain itu, strategi Departemen Keuangan hingga saat ini belum sepenuhnya mencapai tujuan utamanya karena tingkat bunga kembali meningkat.
Marc Chandler, strategis pasar utama di Bannockburn Global Forex, menyatakan bahwa upaya Bessent untuk menurunkan yield AS belum memberikan dampak signifikan terhadap obligasi, namun justru meningkatkan tekanan terhadap mata uang dolar. Menurutnya, pasar mulai menunjukkan penolakan terhadap pendekatan tersebut.
3. Euro dan poundsterling mengalami penguatan
Indeks dolar Amerika Serikat, yang mengukur kinerja dolar terhadap sejumlah mata uang utama seperti euro dan yen, meningkat sedikit sebesar 0,01 persen menjadi 98,80. Namun, euro menguat 0,03 persen menjadi sekitar 1,1682 dolar setelah sebelumnya mencapai 1,1711, tingkat tertinggi dolar sejak 14 Mei.
Poundsterling juga mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen menjadi 1,3649 dolar. Nilai mata uang Inggris ini bahkan sempat mencapai 1,3675 dolar, tingkat tertinggi sejak 11 Februari.
Gerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar mulai mendapat perhatian dari para investor, khususnya ketika prospek kebijakan ekonomi dan fiskal Amerika Serikat semakin tidak jelas.
4. Bitcoin kembali menguat
Di tengah melemahnya nilai dolar, Bitcoin justru terus mengalami kenaikan. Mata uang kripto terbesar ini terakhir mencatat kenaikan sebesar 6,22 persen menjadi sekitar 77.178 dolar, setelah sebelumnya mencapai 79.455 dolar, tingkat tertinggi sejak 15 Mei.
Bitcoin sering dianggap oleh sejumlah investor sebagai pilihan lain dibandingkan mata uang tunai. Oleh karena itu, pergerakannya juga menjadi fokus ketika opini terhadap uang tradisional berubah.
5. Perhatian para investor berpindah ke Federal Reserve
Perhatian pasar selanjutnya akan berfokus pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium bank sentral di Jackson Hole pada hari Jumat mendatang.
Warsh sebelumnya menimbulkan ketidakpastian di pasar setelah pertemuan The Fed pada Juli karena tidak memberikan petunjuk yang jelas mengenai cara para pengambil kebijakan akan menanggapi tekanan inflasi yang masih berlangsung. Dalam pertemuan tersebut, The Fed yang terpecah memutuskan untuk menjaga suku bunga tetap.
Analis dari TD Securities menganggap risiko terhadap dolar sebelum pidato tersebut cenderung sedikit condong ke arah negatif. Jika Warsh memberikan penjelasan yang lebih keras terkait kredibilitas kebijakan inflasi, dukungan terhadap dolar kemungkinan akan terbatas. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dijelaskan dengan meyakinkan, dolar berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.
Saat ini, perdagangan kontrak berjangka suku bunga Fed menunjukkan bahwa pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September sekitar 40 persen, sedangkan peluangnya naik menjadi 72 persen untuk bulan Desember.
6. Rupiah menguat setelah rilis data inflasi Jepang
Di sisi lain, Jepang mengalami kenaikan kecil sebesar 0,02 persen menjadi 159,01 terhadap dolar setelah data menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang naik pada Juli. Data ini memperkuat dugaan bahwa Bank of Japan atau BOJ memiliki alasan yang lebih kuat untuk meningkatkan suku bunga.
Sebelumnya, otoritas Amerika Serikat dan Jepang juga mendukung yen melalui tindakan bersama. Namun, para investor memprediksi bahwa mata uang Jepang masih berpeluang melemah kembali jika Bank of Japan tidak memperketat kebijakan moneter mereka.
Roosevelt Bowman, strategis investasi senior di Bernstein Private Wealth, menganggap bahwa yen masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai tukarnya, namun pergerakannya tidak akan terus-menerus naik. Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi Jepang terus membaik, kebijakan Bank of Japan yang lebih ketat dalam menanggapi tekanan inflasi bisa berkontribusi pada penguatan yen.
Peningkatan suku bunga biasanya memberikan dukungan terhadap nilai mata uang karena mampu meningkatkan daya tarik aset yang dinyatakan dalam mata uang tersebut. Investor saat ini sedang menantikan pertemuan kebijakan Bank of Japan berikutnya yang direncanakan akan diadakan pada 17–18 September.
7. Dollar menghadapi tantangan terbaru
Melemahnya dolar pada periode ini menunjukkan bahwa arah mata uang AS semakin ditentukan oleh berbagai faktor yang saling terkait, bukan hanya kebijakan suku bunga dari Federal Reserve. Kondisi fiskal pemerintah, peningkatan yield obligasi jangka panjang, risiko geopolitik, serta langkah-langkah Departemen Keuangan semua berkontribusi dalam membentuk persepsi investor terhadap dolar.
Dalam jangka pendek, fokus pasar akan sangat tergantung pada cara Departemen Keuangan menangani tingkat imbal hasil obligasi serta bagaimana Federal Reserve memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga selanjutnya. Jika yield terus naik sementara kekhawatiran tentang kondisi fiskal tetap ada, tekanan terhadap dolar bisa terus berlanjut.
Bagi para pemodal, keadaan ini menjadi pengingat bahwa pasar mata uang sangat rentan terhadap perubahan harapan. Meskipun kebijakan yang dibuat untuk menstabilkan pasar obligasi bisa menghasilkan dampak yang berbeda di pasar valuta asing.
Utang Negara Amerika Serikat Mencapai 40 Triliun Dolar, Rekor Tertinggi dalam Sejarah Harga Minyak Global Mencapai 93 Dolar AS Per Barel Ingin Menabung Dalam Dolar? Ketahui Beberapa Manfaatnya






