Perusahaan batubara kesulitan diversifikasi usaha, ini penyebabnya

.CO.ID - JAKARTAPerusahaan pertambangan batu bara secara bersamaan mengambil langkah diversifikasi bisnis. Namun, mengurangi ketergantungan pada keuntungan dari bisnis batu bara tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Penelitian terbaru Energy Shift Institute (ESI) mengkaji 13 produsen batubara utama di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, ESI menganggap hanya dua perusahaan yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengembangkan bisnis non-batubara dengan skala yang nyata atau mengurangi ketergantungan pendapatan mereka pada usaha batubara.

Perusahaan yang menjadi objek analisis ESI adalah PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), serta Geo Energy Resources Limited.

Dari 13 perusahaan tambang batubara tersebut, laporan ESI yang berjudul 'Kesenjangan diversifikasi di sektor batu bara Indonesiamengevaluasi HRUM dan TOBA yang telah menunjukkan kemajuan paling nyata dalam diversifikasi dibandingkan perusahaan lainnya.

Analis ini menggunakan seven-step frameworkuntuk mengevaluasi sejauh mana diversifikasi diterapkan dalam perusahaan dengan mengubah sumber pendapatan dan tingkat ketergantungan terhadap batubara.

Berdasarkan laporan tahun 2025, sebagian besar sumber pendapatan HRUM telah beralih ke bisnis nikel yang memberikan kontribusi sekitar 69% terhadap keseluruhan pendapatan perusahaan.

Sementara TOBA mendorong diversifikasi di luar batubara melalui bisnis pengelolaan limbah yang telah memberikan kontribusi sekitar 41%.

Analisis dari Senior Analyst ESI Idham Muhammad Fachri menyebutkan bahwa diversifikasi merupakan langkah krusial dalam menghadapi meningkatnya ketidakpastian terkait prospek jangka panjang bagi perusahaan batubara.

Perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai risiko yang sedang dan akan dihadapi. Mulai dari ketergantungan terhadap pasar ekspor utama, ketidakpastian kebijakan dalam negeri, serta semakin besarnya tekanan biaya.

Pengembangan bisnis bisa menjadi jawaban yang lebih terstruktur terhadap berbagai risiko tersebut, sejalan dengan perluasan pasar dan peningkatan efisiensi operasional.

Hanya saja, beberapa perusahaan yang melakukan diversifikasi masih melibatkan diri dalam aktivitas yang berkaitan erat dengan batubara, sehingga sebagian besar risikonya tetap tidak berubah.

"Diversifikasi bisnis ini tidak berarti menghentikan operasional perusahaan yang sudah berjalan. Peluang dan prospek (diversifikasi) bergantung pada sektor yang dipilih untuk pengembangan bisnis perusahaan tersebut. Kami menilai diversifikasi bisnis dari perusahaan batubara ini harus segera dilakukan mengingat risiko dasar dari sektor ini semakin meningkat," ujar Idham saat dihubungi oleh .co.id, Minggu (23/8/2026).

Berdasarkan laporan ESI, tekanan untuk melakukan diversifikasi bervariasi di setiap perusahaan. Salah satu faktor yang memengaruhi percepatan diversifikasi, atau sebaliknya, adalah besarnya cadangan serta ruang perpanjangan izin pertambangan.

Semakin banyak cadangan batubara dan ruang yang tersedia untuk memperpanjang izin, maka semakin rendah kebutuhan perusahaan untuk mempercepat diversifikasi. Sebaliknya.

Ketua Komite Pertambangan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia tidak membantah bahwa pemanfaatan sumber daya dan cadangan secara optimal menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh perusahaan batubara dalam menjalankan ekspansi bisnis.

Di sisi lain, permintaan pasar ekspor batubara hingga saat ini masih cukup tinggi, selain kebutuhan untuk memastikan pasokan energi dalam negeri.

Meski demikian, Hendra menekankan bahwa perusahaan tambang batu bara di Indonesia tetap akan melaksanakan perubahan bisnis secara bertahap.

Secara singkat jika masih memiliki cadangan batubara yang ekonomis akan dimanfaatkan, apalagidemand masih kuat," ujar Hendra.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Anggawira memiliki catatan yang sama.

Sampai saat ini batubara masih memainkan peran yang signifikan dalam menjaga ketahanan energi nasional. Pembangkit listrik, sektor industri, serta pendapatan negara masih sangat bergantung pada batubara.

"Jangan mengartikan diversifikasi sebagai mempercepat penghentian produksi batubara tanpa mempertimbangkan keamanan energi nasional. Indonesia masih memerlukan pasokan energi yang andal, terjangkau, dan tersedia. Oleh karena itu, peralihan harus dilakukan bersamaan dengan pengembangan kapasitas energi alternatif," ujar Anggawira

Pada saat yang bersamaan, perusahaan tidak dapat dengan mudah meninggalkan bisnis batubara. Secara umum, perusahaan memanfaatkan kekuatan ekonomi dari bisnis batubara saat ini untuk mengembangkan sumber pertumbuhan baru.

Prinsipnya, cash flow dari bisnis lama harus mulai mendanai bisnis di masa depan.

Diversifikasi sebenarnya sangat mungkin dilakukan. Namun memang memerlukan keberanian untuk melakukannya.capital reallocation secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Kami melihat perluasan pilihan bukan lagi sekadar isu ESG atau mengikuti arus peralihan energi. Perluasan pilihan telah menjadi kebutuhan strategis untuk memastikan kelangsungan perusahaan dalam 10–20 tahun mendatang," kata Anggawira.

Bidang Usaha yang Berpotensi Diversifikasi Batubara

Menurut Anggawira, setidaknya terdapat lima jalur diversifikasi yang layak dilakukan oleh perusahaan batubara. Pertama, sektor mineral kritis dan hilirisasi mineral. Jalur transformasi ini telah dijalani oleh HRUM dengan memasuki ekosistem industri nikel.

Kedua, energi yang baru dan terbarukan. Perusahaan pertambangan memiliki modal, lahan, serta infrastruktur yang dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), air, biomassa, panas bumi, maupun sistem penyimpanan energi.

Ketiga, mengubah bekas tambang menjadi aset ekonomi. Menurut Anggawira, lahan pascatambang seharusnya tidak hanya dianggap sebagai kewajiban reklamasi.

Dengan perencanaan yang matang sejak awal, beberapa area dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembangkit tenaga surya, lahan biomassa, waduk/penyimpanan energi berbasis pompa, kawasan industri ramah lingkungan, agroforestri hingga pusat pertumbuhan ekonomi baru selama memenuhi aturan lingkungan dan tata ruang.

Keempat, waste-to-value dan circular economy,termasuk usaha pengelolaan limbah. Kelima, infrastruktur energi baru mencakup ekosistem kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), baterai, bioenergy, infrastruktur gas, manajemen karbon hingga layanan energi.

Di sisi lain, Direktur Institute for Development of Economics and Finance - Green Transition Initiative (Indef - GTI) Imaduddin Abdullah menyoroti bahwa perusahaan batubara dapat melakukan diversifikasi melalui dua jalur. Pertama, diversifikasi vertikal ke bisnis yang berada dalam satu rantai industri seperti pengolahan lanjutan batubara.

Kedua, diversifikasi horizontal ke bisnis yang berbeda, misalnya dengan melakukan investasi di sektor mineral penting atau ekosistem kendaraan listrik. Imaduddin menekankan bahwa diversifikasi bisnis harus tetap didasari oleh fondasi komersial yang kuat. Bisnis baru perlu mampu menghasilkan pendapatan, profitabilitas, menciptakan kesempatan kerja, dan pada akhirnya bisa berdiri sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada aliran kas dari batubara.

"Selama bisnis batubara masih memberi keuntungan yang kompetitif, manajemen akan menghadapi pertimbangan antara menanamkan modal di bisnis yang sudah dikuasai atau di bisnis baru dengan risiko teknologi, pasar, dan pelaksanaan yang lebih besar. Oleh karena itu, perlu realistis bahwa diversifikasi membutuhkan waktu. Ada proses yang cukup panjang mulai dari pengumuman, alokasi modal, pembangunan operasi, menghasilkan pendapatan, hingga mencapai laba," jelas Imaduddin.

Tidak hanya dari sisi perusahaan, Imaduddin menilai diperlukan dukungan dari pemerintah agar perusahaan dapat mengurangi ketergantungan terhadap ekspose batubara. "Peran pemerintah sangat penting. Membuat insentif dan kondisi pasar agar diversifikasi menjadi keputusan bisnis yang rasional," tegas Imaduddin.

Lebih baru Lebih lama

ads

Berita Amanah dan Terpeercaya

ads

Berita Amanah dan Terpeercaya
Berita Amanah dan Terpeercaya

نموذج الاتصال