
Beberapa perusahaan yang dimiliki oleh konglomerat memiliki aset utama di Bali. Wilayah ini menarik perhatian karena akan dibangun Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di sana.
PFII merupakan kawasan keuangan khusus dengan standar internasional yang dibuat untuk menarik investasi asing, mengelola dana global maupun nasional, termasukfamily office, serta memperkuat keunggulan ekonomi Indonesia dalam persaingan global.
Berdasarkan penelusuran .co.id, beberapa perusahaan milik konglomerat memiliki aset properti, hotel, hingga lapangan golf di Pulau Dewata. Di antaranya adalah perusahaan yang dimiliki oleh suami Ketua DPR RI Puan Maharani, Happy Hapsoro, yaitu PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA).
MINA memiliki properti dan lahan di Bali. Perusahaan mengelola The Santai, sebuah resor kelas atas di kawasan Umalas, Denpasar Selatan, Bali melalui perusahaan anaknya PT Minna Padi Resorts.
- Danantara Peta Jaringan Transportasi BUMN, Cari Titik Kemacetan Konektivitas
- Tarif Ojek Online untuk Pengiriman Barang dan Makanan Segera Diatur, Tanpa Menggunakan Skema Komisi 8%
- Mengembangkan Kemampuan Industri di Tengah Perubahan Menuju Ekonomi Biru
Selain itu, MINA memiliki land bankSeluas sekitar 4 hektar di kawasan Sanur, Bali. Lahan ini direncanakan untuk dikembangkan menjadi resort mewah, perumahan, dan kawasan komersial.
Hapsoro tercatat memiliki 1,94 miliar lembar saham MINA yang setara dengan 19,68% dari seluruh saham perusahaan yang beredar.
Di sisi lain, BUVA memiliki beberapa aset properti hotel di Bali, seperti Alila Villas Uluwatu di Pecatu, Badung; Alila Ubud di Desa Melinggih Kelod, Payangan, Ubud, Gianyar serta Alila Manggis di Karangasem.
Perseroan juga melakukan perluasan area di kawasan Pecatu dan sekitar Uluwatu melalui perusahaan anaknya. Hapsoro menguasai BUVA melalui perusahaan miliknya, PT Nusantara Utama Investama (NUI). NUI tercatat memiliki 15,03 miliar saham BUVA atau setara dengan 61,07% dari total saham perseroan yang beredar.
Selain Hapsoro, perusahaan milik keluarga Cendana juga memiliki properti di Bali. PT Intra Golflink Resorts Tbk (GOLF) diurus oleh Darma Mangkuluhur Hutomo, anak dari Hutomo Mandala Putra yang dikenal sebagai Tommy Soeharto. GOLF memiliki aset berupa lapangan golf di kawasan Pecatu Indah Resort, Bali.
Manajer Cabang Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menganggap rencana pembentukan PFII di Jakarta dan Bali sebagai sentimen positif bagi perusahaan yang memiliki paparan aset dan bisnis di Bali.
Namun, menurutnya, dampak PFII terhadap dasar keuangan perusahaan masih bersifat jangka menengah hingga panjang. Hal ini dikarenakan lokasi PFII masih dalam proses persiapan, dan pemerintah menyebutkan bahwa pengembangannya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
"Namun, pengaruhnya terhadap dasar ekonomi masih bersifat jangka menengah hingga panjang karena lokasi PFII masih dalam proses persiapan dan pemerintah juga menyebutkan bahwa pengembangannya memerlukan waktu sekitar 2–3 tahun," ujar Elandry kepada.co.id, Kamis (20/8).
Menurutnya, BUVA merupakan saham yang paling berpeluang meraih manfaat langsung dari PFII, khususnya dalam bisnis hotel dan properti mewah di Bali.
MINA juga berpeluang meraih sentimen positif karena memiliki akses terhadap kawasan Sanur. Namun, para investor perlu memperhatikan volume perdagangan dan aliran modal karena pergerakan saham MINA cenderung fluktuatif.
Di sisi lain, GOLF lebih bersandar pada kisah perkembangan wilayah, bisnis golf, dan perhotelan. Elandry belum menemukan alasan untuk menetapkan target yang terlalu ambisius sebelum ada katalis fundamental yang lebih jelas.
Secara keseluruhan, saya melihat PFII secara positif sebagaiadditional catalyst, khususnya untuk BUVA, MINA dan GOLF. Namun, para investor tetap harus memperhatikan pencapaian PFII, perkembangan investasi, serta kinerja masing-masing perusahaan," katanya.
Berdasarkan pendapat Elandry, para investor juga sebaiknya waspada jika sentimen terhadap PFII berubah lebih cepat dibandingkan dengan kondisi dasar perusahaan tersebut.
Untuk target harga, Elandry memperkirakan saham BUVA berada di kisaran Rp 800–850, saham MINA sekitar Rp 290–310, dan saham GOLF mencapai Rp 175–185.
"Saya lebih merasa aman dengan target bertahap seperti ini karena PFII masih berada di tahap awal," katanya.
Masih Mencari Dana PFII
Sementara itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sedang menggali peluang modal dari berbagai negara guna mendukung pembangunan PFII. CEO Danantara, Rosan Roeslani menyampaikan, potensi modal terbesar diperkirakan berasal darifamily officeSalah satu sumber yang mungkin berasal dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Ia mengakui telah menerima banyak masukan dari The Dubai International Financial Centre (DIFC) atau Pusat Keuangan Internasional Dubai. Menurutnya, Dubai memiliki dasar keuangan yang kuat.
Selain Dubai, Danantara juga aktif dalam mencari investor baru dan telah berjumpa dengan sejumlahfamily officedari Asia. Rosan menjelaskan, PFII pada tahap awal akan berada di Jakarta sesuai dengan petunjuk Presiden Prabowo Subianto. Selanjutnya, PFII juga direncanakan hadir di Bali.
Namun, pengembangan PFII di Bali memerlukan waktu yang lebih lama karena harus mempersiapkan infrastruktur, bangunan, serta berbagai fasilitas pendukung.
Menurut Rosan, para calon investor justru tertarik pada rencana PFII di Bali karena konsep pusat keuangan internasional di wilayah tersebut memiliki daya tarik khusus.
"Tetapi ini, jika di Bali mereka menyebutnya memiliki kelebihan tersendiri, sehingga ketika bekerja mereka juga dapat meningkatkan pariwisata di Bali, karena mereka memiliki kemampuan belanja yang cukup besar, rata-rata begitu," kata Rosan.
