Hujan Deras Picu Banjir di Cengkareng
Hujan deras yang mengguyur sejak Kamis (22/1) menyebabkan permukiman di Jalan Pulo Indah Raya, RT 10 RW 08, Duri Kosambi, terendam banjir. Air naik secara bertahap hingga mencapai hampir satu meter di beberapa rumah warga.
Menurut warga setempat, genangan mulai terlihat sejak Jumat pagi dan terus meningkat seiring curah hujan yang tinggi. Banyak rumah mengalami masuknya air hingga ketinggian lebih dari setengah meter.
Situasi ini membuat warga yang tinggal di rumah satu lantai terpaksa mengevakuasi barang-barang berharga, sementara penghuni rumah dua lantai memilih tetap bertahan di kediamannya masing-masing.
Akses Jalan Lumpuh, Aktivitas Warga Terganggu
Sepanjang satu kilometer jalan utama di permukiman tersebut lumpuh akibat banjir. Kendaraan tidak dapat melintas, sehingga mobilitas warga sangat terbatas. Warga harus menempuh jalan banjir setinggi pinggang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah warga berinisiatif menggunakan perahu karet darurat atau berjalan kaki menembus air untuk membeli sembako. Hal ini menimbulkan risiko kesehatan karena air bercampur sampah dan limbah rumah tangga.
Petugas setempat belum bisa menurunkan alat berat untuk evakuasi karena kondisi jalan yang terendam air dan hujan yang masih mengguyur wilayah tersebut.
Warga Mengamankan Barang dan Kendaraan
Zami, warga berusia 20 tahun, menceritakan rumahnya terendam hingga 60–70 cm. Perabotan rumahnya sebagian terendam, namun ia sempat menyelamatkan kendaraan dan barang berharga. Menurut Zami, debit air meningkat dalam dua gelombang, pertama sekitar subuh dan kedua saat warga memulai aktivitas pagi.
Peningkatan ini sebagian besar berasal dari aliran air kiriman dari wilayah hulu. Warga lainnya juga melakukan langkah serupa, memindahkan kendaraan bermotor dan barang elektronik ke lantai atas untuk mencegah kerusakan akibat air.
Dampak Sosial dan Ekonomi Banjir
Banjir membuat aktivitas belajar dan bekerja warga terhambat karena akses transportasi tertutup. Anak-anak terpaksa menunda berangkat sekolah, dan pekerja harus mencari alternatif untuk mencapai kantor. Pedagang kecil yang bergantung pada mobilitas warga juga terdampak signifikan.
Pasokan barang dagangan terbatas karena akses jalan utama lumpuh, memengaruhi harga dan ketersediaan kebutuhan pokok. Selain itu, warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaikan rumah dan penggantian perabotan yang rusak akibat terendam banjir.
Upaya Penanggulangan dan Harapan Warga
Warga mengandalkan kesiapsiagaan pribadi dan saling membantu dalam menghadapi banjir. Banyak warga membentuk tim darurat untuk membantu evakuasi barang dan kendaraan. Pihak kelurahan berupaya mendirikan posko sementara untuk mendistribusikan bantuan logistik.
Koordinasi dengan BPBD Jakarta Barat terus dilakukan untuk penanganan lebih lanjut. Warga berharap curah hujan segera menurun dan debit air surut, sehingga mereka bisa kembali beraktivitas normal tanpa harus menghadapi genangan setinggi pinggang setiap hari.

