Evakuasi dan Identifikasi Korban Helikopter BK117 D3 di Kalsel

 

Evakuasi dan Identifikasi Korban Helikopter BK117 D3 di Kalsel

Proses Evakuasi yang Terkendala Medan Berat

Tim SAR saat ini tengah mengevakuasi delapan korban helikopter BK117 D3 yang ditemukan di lokasi kecelakaan. Evakuasi diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam akibat medan sulit dan akses terbatas. Kondisi ini menuntut kehati-hatian agar seluruh proses berjalan aman dan terkoordinasi.

Para korban sedang dipindahkan menuju jalur darat sebelum dibawa ke rumah sakit rujukan di Banjarmasin. Upaya evakuasi ini melibatkan berbagai instansi, termasuk Basarnas dan aparat kepolisian. Proses berjalan lambat karena medan penuh rintangan, namun keselamatan tim menjadi prioritas utama.

Koordinasi lintas lembaga dilakukan intensif untuk memastikan tidak ada hambatan tambahan. Mengingat faktor cuaca dan topografi, tim SAR mempersiapkan rencana alternatif bila jalur utama sulit ditempuh. Setiap detail teknis menjadi perhatian demi kelancaran proses pemindahan jenazah.

Persiapan Pos DVI untuk Identifikasi Korban

Kabiddokkes Polda Kalsel, Kombes Muhammad El Yandiko, memastikan pos Disaster Victim Identification (DVI) telah dipersiapkan. Pos ini akan menjadi pusat utama proses identifikasi begitu jenazah tiba di RS Bhayangkara Banjarmasin. Tahapan identifikasi dibagi sesuai prosedur standar internasional.

Proses Ante Mortem akan dilaksanakan lebih dulu untuk mengumpulkan data awal korban. Informasi diperoleh dari keluarga, kerabat, maupun sumber lain terkait ciri fisik dan rekam medis. Data ini sangat krusial untuk mendukung langkah pencocokan yang lebih akurat.

Selanjutnya, tim juga telah menyiapkan Pos Post Mortem. Di pos ini, jenazah akan diperiksa detail menggunakan metode ilmiah, mulai dari sidik jari hingga DNA. Proses ini penting karena kondisi korban kecelakaan udara umumnya mengalami kerusakan parah.

Mekanisme Rekonsiliasi Data Ante dan Post Mortem

Setelah data Ante Mortem dan Post Mortem dikumpulkan, tim akan memasuki tahap rekonsiliasi. Data yang berasal dari keluarga korban dibandingkan langsung dengan hasil pemeriksaan jenazah. Proses pencocokan ini menjadi kunci untuk memastikan identitas setiap korban secara sah.

Rekonsiliasi mencakup pembandingan ciri fisik, rekam medis, hingga identifikasi biometrik. DNA digunakan sebagai metode terakhir jika cara lain sulit dipastikan. Setiap tahap harus melalui verifikasi berlapis untuk menjamin akurasi maksimal.

Kombes Yandiko menegaskan bahwa sistem DVI ini sudah berstandar internasional. Dengan mekanisme berlapis, diharapkan identitas seluruh korban dapat diungkap tanpa kesalahan. Hal ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga yang menunggu kepastian.

Prediksi Kondisi Korban dan Harapan Tim Medis

Mengingat kerasnya insiden, kondisi jenazah diperkirakan mengalami kerusakan sedang hingga berat. Proses identifikasi menjadi tantangan tersendiri, namun metode ilmiah dapat membantu menemukan kepastian. Tim DVI telah menyiapkan perangkat medis lengkap untuk mendukung kebutuhan tersebut.

Yandiko menyebut dirinya belum melihat langsung kondisi korban dari lokasi kejadian. Namun, berdasarkan pengalaman penanganan kecelakaan udara, kerusakan tubuh korban biasanya signifikan. Hal ini menegaskan pentingnya DNA serta rekam medis untuk mempercepat identifikasi.

Pihak kepolisian berharap seluruh rangkaian identifikasi dapat segera diselesaikan. Kejelasan identitas akan membantu keluarga korban menerima kepastian dengan tenang. Proses ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengandung nilai kemanusiaan tinggi.

Lebih baru Lebih lama

ads

Berita Amanah dan Terpeercaya

ads

Berita Amanah dan Terpeercaya
Berita Amanah dan Terpeercaya

نموذج الاتصال