Insiden mengerikan kembali mengguncang Yaman, menewaskan sedikitnya 80 orang secara tragis. Peristiwa berdarah ini terjadi di wilayah barat laut Yaman pada hari Kamis pekan lalu. Korban terdiri dari warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak yang tengah mencari bantuan.
Tragedi bermula saat massa berkumpul untuk mendapatkan bantuan tunai dari pihak dermawan lokal. Tiba-tiba, kericuhan pecah di tengah antrean, lalu terdengar ledakan yang mengguncang lokasi kejadian. Pemerintah menyebut insiden sebagai "kesalahan teknis", namun banyak pihak menduga hal sebaliknya.
Kejadian ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan dalam konflik brutal di Yaman. Tragedi terjadi di wilayah Saada, markas utama kelompok pemberontak Houthi yang kini menguasai kota. Jumlah korban bisa bertambah, mengingat banyak korban luka masih dirawat dalam kondisi kritis.
Latar Belakang Konflik Yaman
Konflik Yaman bermula sejak tahun 2015, ketika pemberontak Houthi merebut ibu kota Sana’a. Kelompok itu melawan pemerintah yang diakui internasional, didukung koalisi pimpinan Arab Saudi. Konflik membelah negara dan menyebabkan kehancuran infrastruktur serta penderitaan rakyat sipil.
Serangan udara, blokade pangan, dan pertempuran darat menghancurkan kota-kota dan desa-desa Yaman. Lebih dari 377 ribu orang diperkirakan tewas akibat dampak langsung maupun tidak langsung konflik. Ribuan anak-anak meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan akses medis yang sangat terbatas.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Iran juga terlibat secara tidak langsung. Amerika mendukung koalisi, sementara Iran diduga memberikan bantuan militer kepada kelompok Houthi. PBB menyebut Yaman sebagai "krisis kemanusiaan terburuk di dunia" sejak konflik memuncak.
Kronologi Peristiwa
Tragedi terjadi Kamis malam saat ratusan warga berkumpul di sebuah sekolah di Saada. Tempat itu dijadikan lokasi distribusi bantuan tunai oleh pengusaha lokal yang dermawan. Saksi mata mengatakan ledakan terjadi saat petugas keamanan mencoba mengendalikan kerumunan massa.
Dalam hitungan detik, kekacauan menyebar dan puluhan orang terinjak serta sesak napas. Menurut laporan, beberapa tembakan dilepaskan ke udara untuk membubarkan warga yang panik. Namun situasi makin tidak terkendali hingga korban mulai berjatuhan tak tertolong di lokasi.
Sebanyak 80 orang dilaporkan tewas, sebagian besar akibat sesak dan luka parah di kepala. Korban luka mencapai lebih dari 200 orang, banyak di antaranya dalam kondisi sangat kritis. Rekaman amatir warga menunjukkan suasana kacau dan tangisan histeris memenuhi lokasi kejadian.
Reaksi Dunia Internasional
PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden dan menyerukan penyelidikan transparan segera. WHO mengingatkan bahwa sistem kesehatan di Yaman tak mampu menangani korban sebanyak itu. Amnesty International menuntut akuntabilitas dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tragedi.
Negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Kanada menyampaikan belasungkawa atas tragedi kemanusiaan tersebut. Media global menyoroti buruknya penanganan distribusi bantuan di tengah konflik berkepanjangan. Tagar #PrayForYemen dan #YemenTragedy sempat trending di Twitter dan Instagram selama dua hari berturut.
Beberapa organisasi kemanusiaan menyerukan gencatan senjata dan pembukaan akses bantuan lebih luas. Seruan juga datang dari tokoh agama dan masyarakat internasional agar dunia tak tutup mata lagi. Gencatan senjata lokal sempat diusulkan usai kejadian, namun belum ada kesepakatan resmi tercapai.
Potret Kemanusiaan di Tengah Konflik
Seorang ibu kehilangan dua anaknya yang ikut mengantri bantuan untuk membeli makanan harian. Warga lain menangis menceritakan betapa sulitnya hidup, bahkan untuk mendapatkan sepotong roti. Rumah sakit di Saada kewalahan, dengan pasien meluber hingga koridor tanpa fasilitas yang memadai.
Tim medis bekerja tanpa henti, sebagian tanpa gaji, demi menyelamatkan korban sebanyak mungkin. Banyak pengungsi tidur di reruntuhan bangunan, mengandalkan bantuan darurat dari organisasi kemanusiaan. Distribusi bantuan terganggu akibat kondisi keamanan dan logistik yang sangat berisiko tinggi.
Anak-anak terlihat membawa jenazah kerabat mereka, tanpa sepatu, berjalan di tengah debu dan reruntuhan. Kondisi ekonomi lumpuh total, harga bahan pokok melonjak, dan pengangguran merajalela di seluruh negeri. Pendidikan terhenti, infrastruktur hancur, dan harapan warga akan masa depan terus memudar.
Analisis Mengapa Tragedi Ini Terjadi?
Tragedi ini diduga terjadi akibat kelalaian penyelenggara dan minimnya pengamanan dari milisi setempat. Distribusi bantuan tanpa koordinasi keamanan jelas sangat berisiko di tengah kerumunan massa besar. Beberapa analis menilai ini bukan insiden pertama, tapi bagian dari pola kekacauan sistematis.
Konflik yang berkepanjangan telah melahirkan keputusasaan massal, membuat warga nekat demi bantuan. Kurangnya kontrol dan kehadiran lembaga netral menyebabkan bantuan sering disalurkan sembarangan. Ada kemungkinan insiden ini bisa dicegah jika ada pengawasan internasional atau sistem pendataan.
Beberapa pihak menduga insiden ini dimanfaatkan untuk propaganda dan tekanan politik oleh milisi lokal. Pemerintah Yaman dan Houthi saling menyalahkan, menunjukkan tidak adanya satu suara soal penyelesaian. PBB menyarankan audit mekanisme distribusi bantuan untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

